Jaringan Laba-labaKecenderungan obesitas telah meningkat sekitar 30 tahun terakhir ini. Banyak faktor pendukung dari hal ini seperti gaya hidup yang tidak banyak bergerak, kurang olahraga, pola makan yang buruk dan lain-lain. Namun-namun faktor-faktor di atas tersebut cenderung melihat persoalan pribadi sebagai faktor pemicunya.

Namun ternyata menurut pakar-pakar dari Harvard Medical School (HMS) dan University of California, San Diego (UCSD) dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat (AS), obesitas merupakan penyakit yang menular dalam jaringan sosial.

Memang penelitian ini dilakukan di AS, namun kita di Indonesia janganlah menutup mata kepada hasil penelitian yang dilakukan di Farmingham Heart Study (FHS) tersebut. Menurut penelitian tersebut angka kelaziman obesitas telah meningkat dari 21% menjadi 33% di AS, dikalangan orang dewasanya 66% merupakan penderita kelebihan berat badan.

Menurut Nicholas A. Christakis, MD, PhD, MPH pakar dari HMS “Apa yang kita lihat di sini adalah seorang penderita obesitas dapat mempengaruhi orang lain yang mempunyai hubungan social dengannya baik saudara atau teman, baik yang berhubungan langsung maupun tidak langsung, untuk menjadi penderita obesitas”.

Christakis dan kolega, James H. Fowler PhD (dari UCSD) menjabarkan data ini dari arsip-arsip dan tulisan tangan yang dikumpulkan dari penelitian sejak tahun 1971 sampai tahun 2003. Semua perubahan dalam keluarga partisipan FMS yang ikut dalam penelitian ini dicatat. Baik itu kelahiran, kematian, pernikahan dan perceraian. Sebagai tambahan partisipan juga memberikan informasi tentang siapa saja sahabat-sahabat terdekat mereka. Secara kebetulan banyak dari sahabat-sahabat terdekat partisipan juga terhimpun sebagai partisipan. Berfokus pada 12.067 orang, Christakis dan Fowler menemukan 38.611 jaringan sosial dan keluarga. Peneliti juga melihat pengaruh dari factor seperti gender, rokok, status social dan jarak geografis.

Penelitian ini menemukan bahwa resiko sahabat seorang penderita obesitas menjadi gemuk meningkat 57%. Sedangkan saudara seorang penderita resikonya meningkat 40%, serta pasangan mereka resikonya meningkat jadi 37%. Namun tidak ada pengaruh peningkatan resiko terhadap tetangga penderita yang bukan bagian dari jaringan sosial penderita.

Gender memainkan peran penting dalam peningkatan resiko, persahabatan dalam satu jenis gender meningkatkan resiko menjadi 71%. Dalam ikatan saudara juga terlihat bahwa saudara laki-laki seorang laki-laki penderita resikonya meningkat 44%. Juga saudara perempuan seorang perempuan penderita meningkat menajdi 67%. Namun dalam ikatan sahabat dan saudara berlainan gender hal ini tidak memberikan pengaruh signifikan.

Memang menurut sebuah artikel di Majalah Health Today (lupa tanggal terbitnya), perilaku dan gaya hidup kita cenderung menjadi cermin bagi orang-orang terdekat kita, seperti di seputaran keluarga kita. Apalagi bagi seorang laki-laki yang di Indonesia mayoritas bertindak sebagai kepala keluarga, jika kita cenderung memperlihatkan gaya hidup tidak sehat dan mengakibatkan obesitas, efek yang ditimbulkan juga kemungkinan besar akan bersiko terhadap anggota keluarga.

Penelitian di atas menemukan obesitas menular melalui jaringan sosial dalam pola yang dapat dilihat dan diperhitungkan. Jarak sosial lebih memberikan pengaruh dibanding jarak geografis, itulah bedanya dengan penyakit menular lain seperti batuk atau cacar. Penelitian ini menitikberatkan pada perilaku pembawa penyakit obesitas ini dan hubungan sosialnya dengan calon penderita.

“Obesitas”, menurut kesimpulan Christakis dan Fowler, “Sekarang harus dilihat bukan sebagai persoalan klinis seseorang, tetapi merupakan problem kesehatan masyarakat”

“Kita harus melihat bahwa hal penting yang mempengaruhi kesehatan individu juga mencakup jaringan sosial mereka” lanjut Fowler.

Lebih lanjut lagi ada penelitian selama 20 tahun yang dilakukan oleh pakar dari Hertfordshire University, Inggris Prof. Ben (C) Fletcher, DR. Karen Pine & DR. Danny Penman yang terangkum dalam buku “No Diet Diet”, mereka menemukan bahwa orang yang kegemukan memiliki kebiasaan buruk yang sama, dan di antara mereka telah tercipta pola seperti layaknya jaring laba-laba.

Jaring laba-laba menurut pakar kalau dalam struktur kecil kelihatannya tidaklah terlalu kuat tetapi kalau jaringan itu membesar dan rangkaiannya bertambah rumit, maka akan jadi lima kali lebih kuat dari baja, bahkan para pakar ingin membuat rompi anti peluru dari bahan jaring laba-laba. Bayangkan jika jaringan laba-laba itu berbentuk dalam jaringan sosial bermasyarakat.

Menurut Kepala NIA’s Behavioral and Social Research Program, Richard Suzman, Ph.D “Meningkatnya obesitas mengancam implikasi sistem kesehatan yang ada di masyarakat”

Saya bukan menganjurkan anda untuk menghindari teman-teman atau saudara-saudara anda penderita obesitas. Tetapi dalam hal ini bagaimana anda bisa menjadi pendobrak jaringan kebiasaan yang buruk dalam kehidupan sosial anda. Menurut buku “No Diet Diet” di atas, jangan remehkan kekuatan persahabatan jika anda tidak bisa mendobrak sendiri ajak orang terdekat anda untuk melakukannya sehingga kebiasaan baik anda dapat menyebar di jaringan sosial anda. Ingatkan teman-teman anda “Jika kalian membiasakan diri kalian dalam kondisi obesitas, berarti akan ada juga orang-orang terdekat anda entah itu pasangan, anak, saudara atau teman yang menderitanya”.

Ingat obesitas dapat membawa anda pada resiko tekanan darah tinggi, diabetes dan banyak penyakit lainnya. Jadi jika anda mempunyai pola hidup tidak sehat, maka ingat hal ini tidak akan beresiko terhadap diri anda sendiri tetapi juga pada orang-orang terdekat yang anda kasihi.

Penulis: Jeffri Argon

Sumber: NEJM.org, HMS Site (http://web.med.harvard.edu/sites/RELEASES/html/July07Christakis.html), No Diet Diet terjemahan Indonesia terbitan Gramedia (lihat juga http://www.nodietdietway.com) , Health Today, Yahoo!