Bagaimana kalau kekurangan satu zat penting dalam tubuh seorang ibu dapat mengubah masa depan anak yang akan dilahirkannya kelak? Bagaimana kalau setelah anak itu lahir terjadi sesuatu yang permanen, yang tidak bisa di ubah atau di upgrade secara lagi optimal? Tentu anda tidak ingin ini terjadi pada keluarga anda. Hal pertama yang bisa anda lakukan adalah mendorong si ibu atau calon ibu untuk mengkonsumsi zat tersebut. Anda jugalah yang bisa menjaga pola konsumsi si ibu tersebut sehingga bayi yang dilahirkannya sehat. Menjaga pola konsumsinya berarti menjaga agar tidak ada kekurangan atau kelebihan konsumsi zat gizi yang diperlukan.


Fortifikasi/Pengayaan Asam Folat

Belakangan ini banyak iklan-iklan produk makanan dan minuman yang menampilkan informasi kandungan-kandungan nutrisi penting yang terkandung dalam produk tersebut. Simak saja sebuah iklan susu untuk ibu hamil yang memberikan informasi bagaimana kekurangan asam folat dapat menyebabkan bayi lahir dengan cacat otak atau istilah medisnya Neural Tube Deffect atau cacat tabung syaraf.

Begitu pentingnya tabung otak ini karena dalam tubuh calon bayi tabung otak adalah pembentuk otak dan tulang belakang. Jadi Neural Tube Deffect (NTD) bisa memyebabkan cacat otak (anencephaly) atau cacat tulang belakang (spina bifida) bahkan bisa jadi keduanya menurut (http://neuro-ugm.com/index.php) situs jurusan Neurologi, Kedokteran UGM. Disebutkan dalam situs itu NTD merupakan cacat lahir yang paling umum dan sangat serius!!!

Informasi yang kita lihat di berbagai media mengenai efek asam folat untuk mencegah NTD ini telah diteliti oleh James M. Robbins dkk dari American Academy Of Pediatrics, http://www.pediatrics.org, dalam survei “Hospitalizations of Newborn with Folate-Sensitive Birth Defect Before and After Fortification of Food with Folic Acid”

Di survei ini Robbins dkk membandingkan angka bayi baru lahir yang dirawat akibat NTD sebelum adanya program pengayaan makanan dengan asam folat (folic acid) dan sesudahnya di Amerika Serikat. Memang di Amerika Serikat pada tahun 1998 program nasional pengayaan (fortifikasi) makanan dengan asam folat. Antara periode 1993-1997 (sebelum program pengayaan) sampai periode 1998-2004 (sesudah) penemuan Robbins menunjukkan terjadi penurunan 21% angka spina bifida dan 20 % anencephaly, keduanya adalah jenis NTD. Namun dalam survei tersebut tidak terjadi penurunan yang signifikan untuk angka bayi cacat jenis lainnya seperti limb-reduction (4%), down syndrome (tidak ada angka yang signifikan), cleft/bibir sumbing (tidak ada angka signifikan).

Jadi survei tersebut membuktikan bahwa asam folat efektif untuk penurunan angka bayi cacat otak jenis NTD, tetapi tidak untuk jenis cacat otak lainnya.

Penemuan survei ini juga dikuatkan oleh survei Kirk A. Boll dkk (juga dari AAP http://www.pediatrics.org) “Survival Infant with Neural Tube Deffect in The Presence of Folic Acid Fortification” Boll dkk, menyatakan bahwa efektivitas asam folat untuk menekan NTD telah terbukti, dan yang menggembirakan survei mereka menunjukkan efektivitas asam folat terhadap kelangsungan hidup bayi yang menderita NTD. Survei mereka menunjukkan peningkatan angka bayi NTD (92.1% dari 90.3% untuk spina bifida dan 79,1% dari 75,7% untuk anencephaly) yang masih hidup di tahun pertama bayi tersebut setelah diberikan asam folat.

Memang menurut Boll angka itu selain dipengaruhi asam folat juga dipengaruhi oleh kasih sayang keluarga si bayi. Mengenai peran keluarga terutama orang tua si bayi sangat hal ini sangat perlu, apalagi ketika sang ibu mengandung calon bayi, karena masa pertumbuhan otak bayi itu yang sangat penting justru ketika mereka masih dalam kandungan.

Optimalisasi Pertumbuhan Otak Bayi Ketika Dalam Kandungan

Menurut Dr, Fasli Jalal, PhD (Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan) dalam Seminar Pemberian Makan Pelengkap ASI (MP-ASI), yang diadakan oleh Jurusan Teknologi Pertanian UNAND tahun 2003, “Otak bayi itu berkembang paling pada saat bayi masih dalam kandungan, sekitar 70-80% komponen otak terbentuk saat itu”. Jadi kalau bayi itu mengalami cacat otak ketika dilahirkan maka hal ini merupakan kerugian besar bagi otak si bayi.

Memang menurut sumber lain yang penulis baca (ayah bunda oline, dan tabloid-tabloid ) otak bayi mengalami pertumbuhan hebat sejak dia dalam kandungan sampai umur 2 tahun. Setelah itu bisa dikembangkan tetapi tidak optimal.

Tapi menurut dr Sudjatmiko, MD SpA (dosen FKUI, di dalam situs http://www.balita-anda.indoglobal.com/) di Indonesia atau di negara-negara berkembang pada umumnya — boleh dikatakan sangat jarang ada keluarga yang mempersiapkan kehamilan. Kerap kehamilan dianggap sebagai suatu yang mengejutkan. Inilah yang cenderung menjadi penyebab awal mengapa anak-anak yang lahir kemudian tidak berkualitas, karena orang tua seakan tidak siap dalam segala hal untuk memelihara anaknya.

Kesimpulan

Ada benarnya kata-kata dalam iklan bahwa susu hamil yang diperkaya asam folat dapat mencegah bayi lahir cacat otak, tapi dampaknya itu hanya efektif khusus cacat jenis NTD, tidak berlaku bagi jenis cacat otak lainnya. Selain dari susu yang diperkaya, asam folat juga bisa di dapat dari sayuran hijau, daging tanpa lemak, sereal, jeruk, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Dan menurut neurolog UGM asupan yang dianjurkan untuk ibu hamil adalah 500-600 mcg/hari.

Keluarga si calon bayi haruslah mempersiapkan kehamilan sang ibu karena masa-masa kehamilan itu merupakan masa yang kritikal bagi ibu dan calon bayi. Ingat selain nutrisi makanan bayi punya kebutuhan kasih sayang. Seorang ibu harus menerima kehamilan itu, dalam arti kehamilan yang benar-benar dikehendaki. Kasih sayang dari calon orang tua akan memberikan dukungan yang lebih berarti dibanding selain dukungan nutrisi.


Penulis: Jeffri Argon

Sumber: Prinsip Dasar Ilmu Gizi (Almatsier), http://neuro-ugm.com , http://www.pediatrics.org, http://www.balita-anda.indoglobal.com, http://www.idai.org, ayah bunda online