Akhirnya sampai juga di bab hasil dan pembahasan tesis, tapi rasanya sangat-sangat banyak yang kurang pas, mohon, terutama pakar ekonomi dan pakar kelapa kasih konsultasi dan masukan GRATIS kalau berkenan..:D

1. Dinamika Sosial dalam Pengelolaan  Kebun Kelapa

Merujuk pada Jary/Jary (Sayogyo, 2002) dinamika sosial itu mencakup pada hal-hal seperti di bawah ini:

  • Perkembangan teknologi
  • Konflik sosial
  • Permasalahan integrasi sosial diantara bagian-bagian dalam masyarakat
  • Dampak ideologi yang mempengaruhi tindakan dan perilaku sosial, misalnya hubungan antar etika agama, ideologi kapitalisme

Pengelolaan kebun kelapa di Sungai Geringging juga tidak luput dari dinamika sosial karena masyarakat pada masa sekarang sangat menginginkan adanya penemuan dan pendapatan-pendapatan baru demi kemajuan sosial ekonomi yang mereka idamkan.         Besarnya pendapatan petani sendiri akan mempengaruhi kebutuhan dasar yang harus dipenuhi yaitu pangan, sandang, papan, kesehatan. Namun menurut Abraham Maslow (1994)  dasarnya semua manusia memiliki ebutuhan pokok. Ia menunjukkannya dalam 5 tingkatan yang berbentuk piramid, orang memulai dorongan dari tingkatan terbawah. Lima tingkat kebutuhan itu dikenal dengan sebutan Hirarki Kebutuhan Maslow, dimulai dari kebutuhan biologis dasar sampai motif psikologis yang lebih kompleks, yang hanya akan penting setelah kebutuhan dasar terpenuhi.

 

Dengan demikian masyarakat tidak akan berpuas diri dalam pemenuhan kebutuhan sehingga akan ada kontinuitas usaha ke arah perubahan sosial berupa inovasi yang didukung oleh perubahan teknologi, serta dinamika lainnya yang berhubungan dengan sosial ekonomi masyarakat.

1.1.  Asal Usul Kepemilikan Kebun Kelapa yang Di Kelola

            Untuk luas lahan rata-rata petani mempunyai lahan 1,46 ha, hal ini mengingat lahan petani merupakan tanah ulayat yang dibagi-bagi penguasaan di antara keluarga pihak kaum wanita. Sehingga rata-rata penguasaan itu berkisar antara 1-2 ha, jadi jika keluarga itu mempunyai lahan 4 ha dan anak perempuannya ada 4 orang maka setiap anak perempuan/wanita di keluarga itu mendapat hak lahan ulayat sebsesar 4 ha.

Jika lahan tersebut ingin dikelola oleh kaum pria dari keluarga tersebut (adik, kakak , suami atau “sumando” si wanita) maka harus dilakukan dengan seizin pihak wanita.  Hasil dari tanah ulayat digunakan seluas-luasnya untuk kepentingan keluarga, mengingat prinsip “Anak dipangku, Kemenakan dibimbiang” masih dipegang teguh oleh sebagian masyarakat Sungai Geringging, bahkan kerabat perantau yang belum sukses di perantauannya masih didukung oleh hasil kebun kelapa tersebut, dan setelah mereka sukses diharapkan mereka memberi imbal balik atas penghasilan keluarga yang sebelumnya diberikan kepada perantau.

Tanaman kelapa ini secara tradisi diwariskan oleh para orang tua di Sungai Geirngging, sejak jaman dahulu sudah dihimbaukan di Sungai Geringging agar lahan yang mereka punya dimanfaatkan untuk tanaman kelapa, mengingat tanaman itu merupakan tanaman yang banyak bermanfaat. Hampir setiap bagian dari pohon kelapa tersebut bisa dimanfaatkan untuk sumber penghasilan. Namun permasalahannya saat ini adalah fasilitas pengolahan dan pemasaran belum memadai di Propinsi Sumatera Barat umumnya, di daerah Padang Pariaman khususnya.

1.2.      Status Kepemilikan Lahan Yang Dikelola

Seperti disebutkan di atas status kepemilikan lahan kebun kelapa di Sungai Geringging kebanyakan adalah milik keluarga, sangat jarang satu keluarga petani membeli dan kemudian memiliki sendiri lahan tersebut.  Jika pengelola kebun kelapa tersebut adalah laki-laki maka biasanya lahan tersebut adalah milik keluarga istrinya, yang mana atas persetujuan keluarga istrinya lahan tersebut bisa dikelola oleh laki-laki tersebut

1.3.      Status Penguasaan Lahan Kebun Kelapa

            Walaupun tidak banyak sekitar hanya 15%, namun ada lahan kelapa yang tergadai, yang kebanyakan digadaikan kepada kerabat atau tetangga terdekat. Hal ini terjadi karena adanya kebutuhan mendesak dan mereka merupakan orang tua tunggal (wanita) yang kurang mampu mengelola kebun kelapa, anggota keluarganya pun banyak yag pergi merantau. Sehingga pengelolaan itu diupahkan ke orang lain dan dalam hal ini juga digadaikan.

1.4.      Konflik Dalam Kepemilikan Lahan Kebun Kelapa

Konflik sosial dengan sesama masyarakat langsung bisa dikatakan tidak ada, jika ada beberapa kasus biasanya diselesaikan secara kemasyarakatan dan adat bersama ninik mamak. Namun konflik tersebut bisa dikatakan jarang terjadi, karena aturan adat soal tanah ulayat masih dipegang teguh oleh masyarakat Sungai Geringging.  Konflik yang cukup menarik perhatian adalah petani mendapat saingan utama dalam proses panen, karena adanya kera dan tupai yang mencuri hasil panen yang menurut penuturan responden bisa mencapai 30-70% hasil panen.

            Hal ini sudah dalam taraf mengkhawatirkan dan menurut kebanyakan  responden khusus untuk kera pencuri sulit diberantas, karena terbentur aturan pemerintah di mana kera merupakan hewan yang dilindungi.

1.5.  Pola Pengelolaan Kebun Kelapa

            Seperti disebutkan di bab sebelumnya tidak semua rumah tangga petani mampu mengelola dan memelihara kebun kelapa diakibatkan kurangnya anggota keluarga yang mampu mengelolanya. Sehingga pemliharaannya dilakukan dengan mengupah orang lain.

Namun sekitar 60 % dari rumah tangga petani, terutama yang merupakan anggota kelompok tani termotivasi dan mampu mengelolanya, terutama karena kebun kelapa mereka merupakan kebun Tumpang Sari sehingga jika dilakukan pembersihan dan pemupukan atas kebun di yang berada dibawah naungan kebun kelapa, seperti Kakao, Pisang maka dengan sendiri pohon Kelapa tersebut akan terpelihara. Kebanyakan pemeliharaan rutin dilakukan 3 bulan sekali dan dibantu oleh 3-4 orang, namun sebagian ada juga yang melakukan secara rutin di waktu senggang.

1.6.  Pengelolaan Panen Kebun Kelapa

Sebagian besar (sekitar 90 %) dari rumah tangga petani, kecuali responden yang memang pengusaha pengumpul kelapa, menyerahkan hasil panen mereka kepada pengumpul dan pedagang besar (dijual di batang). Proses panen sendiri melibatkan tenaga kerja dari wilayah Sungai Geringging, yakni mulai dari pemilik “beruk” pemetik kelapa, pengupas kelapa serta pengangkut/pelangsir dari kebun ke tempat pengumpulan.

Para pekerja panen itu bisa mendapatkan hasil yang memadai bagi sumber penghasilannya, namun sebenarnya mereka juga mendapat saingan utama dalam proses panen, karena adanya kera dan tupai yang mencuri hasil panen.

1.7. Pengolahan Hasil Panen

Hasil panen kebun kelapa bagi pemilik biasanya akan di olah menjadi minyak tanak/minyak makan, sebagian juga diolah menjadi Virgin Coconut Oil (VCO) namun pengolahan VCO ini kurang didukung oleh teknologi, fasilitas dan sarana pendukung, serta pemasaran bagi produk VCO ini.

Sementara pengolahan ampas sabut kelapa, menurut kebanyakan responden (90%) masyarakat di Sungai Geringging belum terlalu mengerti dalam pengolahan ampas ini, ditambah lagi kurang didukung dalam hal sarana dan prasarana dalam pengolahan ampas ini.

Begitu juga dalam pengolahan komoditas kelapa ini dalam bentuk-bentuk lainnya yang bisa melipatgandakan pendapatan dari komoditas kelapa, kebanyakan responden mengeluhkan soal sarana dan prasarana berupa mesin-mesin pengolahan, serta teknologi yang belum sepenuhnya mereka kuasai.

 

2. Implikasi Ekonomi Kebun Kelapa

 Implikasi komoditas kelapa bagi perekonomian ada yang berdampak langsung maupun tidak langsung. Dampak yang langsung dapat dirasakan adalah meningkatnya pendapatan bagi masyarakat, sehingga meningkatkan juga ekonomi masyarakat Kecamatan Sungai Geringging. Seberapa jauh dampak bagi pendapatan dan kesempatan tenaga kerja tentunya tidak terlepas dengan seberapa besar perubahan permintaan suatu komoditas. Sementara dampak tidak langsung adalah dengan meningkatnya pendapatan masyarakat hal ini tentu akan meningkatan nilai tabungan, yang mana kenaikan tabungan itu nantinya akan berimbas pada naiknya investasi di daerah tersebut. Dampak tidak langsung lainnya juga dengan bertambahnya kenaikan pendapatan dari sektor fiskal yang didapat dari banyaknya kegiatan ekonomi yang menyumbang sektor fiskal tersebut nantinya akan meningkatkan perekonomian daerah.

2.1.  Implikasi Ekonomi Bagi Pemilik Lahan Kelapa

Hasil kelapa merupakan sumber utama penghasilan, sebanyak 40%  responden menjawab hasil itu merupakan yang utama, lalu 60% menyatakan kelapa sebagai yang utama selain tanaman lain seperti Kakao, Pinang, Pisang karena mereka memang mengusahakan kebun Tumpang Sari.

Beberapa rumah tangga responden menyerap tenaga kerja dari keluarga sendiri dalam hal pemeliharaan dan pemanen, serta perajin industri kecil seperti minyak makan, VCO, sapu lidi, serta penebang pohon kelapa untuk bahan mebel. Implikasi ekonomi bahkan dirasakan oleh keluarga responden yang sedang merantau, karena memang mereka mempunyai hak atas lahan kelapa yang merupakan tanah ulayat tersebut.

2.2.  Implikasi Ekonomi Bagi Masyarakat Sungai Geringging

            Bagi masyarakat Sungai Geringging  dengan terlibatnya mereka sebagai tenaga kerja baik sebgai pemanen, pemelihara, pengumpul, perajin/industri kecil (VCO, Sapu Lidi), perajin kayu kelapa/mebel, hasil dari  kelapa merupakan sumber utama penghasilan.

Namun walaupun rumah tangga responden menyerap tenaga kerja dari daerah Sungai Geringging  dalam serta perajin industri kecil seperti minyak makan, VCO, sapu lidi, serta penebang pohon kelapa untuk bahan mebel namun sangat disayangkan belum ada fasilitas industri pabrikasi yang maju di daerah tersebut.  Seandainya industri yang lebih besar dan terpadu dalam pengelolaan kelapa ini bisa dibangun di daerah Sumatera Barat pada umumnya serta di Sungai Geringging khususnya tentu akan memberikan  efek yang berlipatganda terhadap perekonomian masyarakat.

2.3.  Implikasi Ekonomi Bagi Ekonomi Daerah

            Seluruh responden sepakat menjawab bahwa hasil kelapa ini bermanfaat bagi ekonomi daerah, karena produk yang dihasilkan tersebut disalurkan ke luar daerah. Mulai dari ibukota Propinsi sampai ke Propinsi tetangga, serta Daerah Ibukota Jakarta dengan memanfaatkan jaringan orang perantauan, hasil kelapa di salurkan sebagai sumber bahan baku industri di daerah-daerah tersebut.

Lebih ditegaskan lagi oleh responden, bahwa mutu buah kelapa dari Padang Pariaman merupakan salah satu yang terbaik, mempunyai cita rasa sehingga dari situlah diolah industri kuliner Sumatera Barat yang terkenal lezat itu. Demikian juga sebagai bahan mebel, kayu kelapa dari Padang Pariaman bermutu bagus, sangat disukai oleh pembuat mebel daerah lain hingga ke pulau Jawa.

Dengan banyaknya komoditas kelapa  yang dialirkan ke luar daerah tentunya mempengaruhi pendapatan sektor transportasi pada ekonomi daerah, berupa besarnya hasil pajak yang dihasilkan dari sektor transportasi ini, serta pendapatan-pendapatan lain yang dihasilkan dari peningkatan arus transportasi komoditas kelapa ini. Menurut Hartarto (2006), peranan transportasi untuk mendorong mobilitas manusia dan pengangkutan barang sangatlah penting, mencakup kepentingan ekonomi, pariwisata dan juga mencari pendidikan yang lebih baik. Kemajuan dalam hal ekonomi (terutama ekonomi pertanian), pariwisata dan pendidikan tersebut sejalan dengan kebijakan sektor-sektor unggulan wilayah propinsi Sumatera Barat, sehingga transportasi adalah salah satu hal utama yang perlu diperhatikan dalam pembangunan ekonomi wilayah kita. Sarana dan prasarana transportasi di daerah perkotaan utama di Sumatera Barat mungkin sudah bisa dibilang sangat memadai, namun yang perlu lebih diperhatikan lagi adalah di daerah perdesaan.

Dengan adanya fakta-fakta di atas serta memanfaatkan perantau sebagai jaringan pemasaran dan adanya fasilitas industri yang lebih besar dan baik, sebenarnya potensi kelapa sebagai penyumbang pendapatan asli daerah sangatlah besar. Sangat disayangkan jika keunggulan ini tidak dimanfaatkan untuk mendapatkan penghasilan yang sebesar-besarnya, alih-alih memanfaatkan komoditas lain sebagai komoditas unggulan, dengan komoditas kelapa yang merupakan tanaman tradisional dan mempunyai rasa yang khas yang memberi cita rasa bagi kuliner Sumatera Barat yang terkenal lezat, serta setiap bagian dari tanaman tersebut dapat dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku industri yang akan membuka peluang investasi. Sehingga ekonomi daerah ini akan mendapatkan pendapatan dari pajak maupun pendapatan-pendapatan lainnya yang mempunyai multiplier effect yang besar dari komoditas kelapa, dengan dibukanya pabrik-pabrik baru bagi pengolahan kelapa ini.