Memanfaatkan waktu lowong kemaren untuk buku-buku yang selama ini gak sempat dibaca,

ketika membaca buku “Adat dan Syarak di Minangkabau” karangan buya H. Mas’oed Abidin *, aku tertarik pada bahasan tentang  tata ruang di buku tersebut.

 

 

Cerita tentang tata ruang ini, Sumatera Barat sebagai ranah yang rawan bencana, seperti dibilang oleh banyak pakar, sudah selayaknya memperhitungkan tata ruang dalam membangun daerah ini, sehingga risiko bencana dapat di minimalisir.

Pada buku karangan buya Mas’oed itu sebenarnya sejak dahulunya orang minang sudah memperhitungkan tata ruang yang baik, konsep tata ruang ini adalah salah satu kekayaan pemikiran dan budaya yang sangat berharga di Minangkabau, konsep itu jelas disebutkan dalam penuturan ini

 

“Nan lurah tanami bambu

Nan lereang tanami tabu

Nan gurun buek kaparak

Nan bancah buek kasawah

Nan gauang katabek ikan

Nan lambah kubangan kabau

Nan rawang ranangan itiak

Nan padek kaparumahan

Nan munggu kapakubuaran”  **

 

artinya, pemanfaatan alam (lahan), akan sangat membawa manfaat yang baik jika dikelola dengan baik, sebaliknya jika tidak baik, musibah yang akan datang. Menempatkan sesuatu menurut keadaan alam, kondisi, dan musim akan mendatangkan hasil yang baik untuk kemakmuran negeri.

 

Tata ruang di bidang pertanian, yang  berlereng (lereang) untuk tanaman tebu serta lurah/tunggang  (berjurang) seperti tebing dapat ditanami bambu dengan beragam kegunaan dapat berfungsi sebagai penahan tanah agar tidak longsor. Tanah gurun dan datar  dipakai sebagai parak (ladang palawija) atau kebun tanaman tua. Tanah basah/bancah mempunyai tali bandar yang dapat digunakan untuk bersawah. Tanah gauang (menjorok ke dalam tanah) bisa dijadikan kolam ikan.  Bergembala kerbau di lembah padang rumput, tanah rawa (rawang) dijadikan untuk ternak itik.

 

Begitu juga tata ruang untuk perumahan, dirikanlah bangunan di tanah padek (padat),  lalu tanah munggu untuk perkuburan.

 

Penuturan di atas mengandung suatu pelajaran besar, jika arif memahami yang dikerjakan sesuai kajian tepat atau meletakkan sesuatu pada tempatnya. Satu kebijakan maju, menurut alur dan patut akan memberi posisi peran pengatur, pemelihara dan pendukung sistem kehidupan kita agar lebih baik.

 

Jadi konsep “build back better”  pasca bencana, sehingga kita  dapat mengurangi risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa saja datang lagi (Wallahu alam, kita tidak berharap akan datang lagi)  haruslah memperhitungkan pengelolaan tata ruang yang berkonsep pada pemilihan lahan yang tepat, bukan sekadar memperbaiki mutu bangunan.

 

Apabila konsep-konsep kehidupan disusun dengan baik dan seimbang, diselaraskan dengan alam, maka akan tercipta “safer community”, masyarakat akan aman dan tentram (bumi sanang), keseimbangan perlu dijaga sesuai dengan tuturan orang minangkabau  “bumi ko barado di ujuang tanduak kabau” (bumi ini berada di ujung tanduk kerbau), jika alam tidak seimbang maka bencana bisa terjadi dimana-mana

 

Sebagai contoh nyata, akibat peristiwa galodo kemarin, telah terendam ratusan rumah di Kelurahan Tabiang Banda Gadang Kecamatan Nanggalo, Kota Padang, menurut penuturan warga setempat dan tinjauan ke lapangan oleh beberapa media, dinyatakan pemukiman yang dihuni warga di sana adalah bekas sungai.  Sehingga wajar saja ketika air sungai meluap,  bekas sungai itu kembali menjadi jalur air.

 

Peristiwa ini menjadi menyedihkan karena, ketika kita ingin mengusung “build back better”  pasca bencana, sehingga kita  dapat mengurangi risiko bencana yang sewaktu-waktu bisa saja datang lagi (Wallahu ‘alam, kita tidak berharap akan datang lagi)  haruslah memperhitungkan pengelolaan tata ruang yang berkonsep pada pemilihan lahan yang tepat, bukan sekadar memperbaiki mutu bangunan.

 

Untuk memperkuat pernyataan warga tersebut kita bisa lihat peta dibawah ini:

Peta Dampak GalodoPeta Dampak Galodo

Resolusi peta yang lebih besar dapat di lihat dan download di sini:  http://farm9.staticflickr.com/8020/7675555386_16e00d9428_k.jpg

 

Dapat dilihat daerah yang berwarna oranye adalah daerah yang terdampak galodo, sementara garis biru itu adalah sungai (berdasarkan citra satelit – GTZ 2009), kemudian garis merah putus-putus adalah data sungai lama (berdasarkan Bakosurtanal 2002).

 

Di latar peta ini ada overlay dari citra satelit (GTZ 2009), bisa dilihat daerah yang berwarna terang bermotif kotak kecil adalah perumahan, sementara yang berwarna terang bermotif kotak agak besar adalah sawah, kemudian yang agak gelap adalah hutan/pepohonan. Di daerah tabiang Banda Gadang, terlihat areal perumahan dilewati  garis merah putus-putus cukup panjang (bekas sungai), yang tidak sinkron dengan garis sungai baru (warna biru) 

 

Sementara bandingkan dengan garis merah putus-putus agak panjang yang juga tidak sinkron dengan garis sungai baru (warna biru), yang terletak di kec Padang Utara (kanan atas), lahan itu setahu saya (yang sering melewati daerah itu), dulu adalah daerah kumuh Malvinas, yang sekarang tidak dihuni lagi sudah menjadi hutan kota (direncanakan untuk taman burung mini, yang mana burung yang punya naluri cukup tajam bisa dimanfaatkan untuk “early warning” bencana,  namun taman ini belum terealisasi sampai sekarang –baiklah soal ini bisa kita bahas belakangan)

 

Kembali kepada daerah Tabiang Banda Gadang, apabila kita memang ingin membangun dengan konsep “build back better”, sudah seharusnya kita kembali mengingat kembali penuturan di atas: “Nan padek kaparumahan” , jadi jangan hanya karena ingin mengejar keuntungan semata, pembangunan pemukiman di buat di atas tanah berlumpur dan bekas sungai. Bisa saja bekas sungai itu dipakai untuk perumahan, namun terlebih dahulu harus dipadatkan dan ditinggikan tanahnya.

 

Tulisan ini ditujukan bukan karena ingin berandai-andai, bukan untuk mencari idealism suatu tata ruang,  tapi  kalau konsep-konsep kehidupan disusun dengan baik dan seimbang, diselaraskan dengan alam, maka akan tercipta “safer community”,  masyarakat akan aman dan tentram (bumi sanang), keseimbangan perlu dijaga sesuai dengan pepatah lama orang minangkabau  “bumi ko barado di ujuang tanduak kabau” (bumi ini berada di ujung tanduk kerbau), jika alam tidak seimbang maka bencana bisa terjadi dimana-mana.

 

Hal ini bisa jadi berlaku tidak hanya di alam minangkabau tapi juga untuk seluruh negeri yang katanya berada di lingkar api dan rawan bencana ini.

 

Demikianlah  mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung, tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui tapi hanya sekadar berbagi, jika anda merasa ini repost, anggap saja sebagai pengingat..:)

Hal ini bisa jadi berlaku tidak hanya di alam minangkabau tapi juga untuk seluruh negri yang katanya berada di lingkar api dan rawan bencana ini.

 

Demikianlah  mohon maaf jika ada kata-kata yang menyinggung, tulisan ini tidak bermaksud untuk menggurui tapi hanya sekadar berbagi, jika anda merasa ini repost, anggap saja sebagai reminder..:)

 

Sumber: *     “Adat dan Syarak di Minangkabau” oleh H. Mas’oed Abidin

**  “Buku Kato Pusako” oleh A.B.Dt. Majo Indo

Foto:             Humam Didik Zarodi