belanja-online

Proses bisnis/sosial jaman sekarang sudah berbeda dengan jaman dahulu.  Sekarang dengan beberapa sentuhan jari saja, transaksi bisnis sudah bisa terlaksana tanpa perlu bertatap muka dengan kolega bisnis. Alat yang menjadi bagian penting dari transaksi itu adalah kartu elektronik, semenjak dari dekade 1990-an, kartu ATM dan kartu kredit ditawarkan oleh banyak bank  sebagai solusi untuk pengambilan uang tunai dari bank secara cepat. Kemudian jika kita melompat jauh ke dekade sekarang, boleh dibilang kita mulai jarang memegang banyak uang tunai dan bertransaksi secara tunai. Kartu elektronik tersebut dipercaya sebagai alat tukar dalam transaksi menggantikan uang tunai. Boleh dibilang transaksi dalam bentuk uang tunai  hanya dilakukan ketika melakukan transaksi dalam nilai kecil. Pada dekade sebelum 1990-an mungkin belum terbayang oleh orang  banyak jika suatu saat nanti uang kertas berlembar-lembar serta uang koin  yang biasa dipakai untuk bertransaksi akan digantikan oleh kartu plastik kecil.  JIka dahulu kita sering mendengar sebutan untuk orang kaya adalah “si Tuan/Nyonya berkantung tebal” karena demikian banyaknya uang yang dibawa di dalam kantung atau dompetnya,  sekarang dengan adanya kartu elektronik kantung si tuan akan sedikit menipis walaupun kekayaannya semakin meningkat.

Boleh dibilang sudah menjadi keharusan bagi  masyarakat perkotaan (sebagian besar) maupun perdesaan (mungkin masih sebagian kecil) untuk mempunyai dan bertransaksi sehari-harinya dengan Non-tunai ini. Apakah itu sekedar transaksi penarikan tunai di ATM, atau bertransaksi perdagangan secara tatap muka, ataupun transaksi tanpa tutup muka atau transaksi on-line dengan melewati jarak dan batas-batas negara sekalipun. Dapat dikatakan bentuk proses bisnis dan sosial seperti ini merupakan “globalisasi yang melibatkan kapitalis dan seperangkat relasi sosial  dan aliran sumber daya yang melewati batas-batas nasional”  seperti yang dikemukakan oleh Kellner (Ritzer, “Teori Sosiologi Modern, 2003)

Kartu elektronik memang telah bagian penting bagi banyak pihak untuk bertransaksi. Dalam sehari, transaksi ATM secara nasional rata-rata mencapai Rp 8,1 triliun per hari. “Transaksi itu baik menggunakan kartu debit maupun kartu kredit,” kata Deputi Direktur Pengawasan Sistem Pembayaran Departemen Akunting dan Sistem Pembayaran BI, Pudji Atmoko.  Menurut dia, memiliki ATM lebih memudahkan nasabah dalam bertransaksi tanpa perlu ke kantor bank.

Sementara itu, pengguna kartu debit hingga posisi Maret 2012 tercatat sekitar 65 juta orang dengan jumlah transaksi mencapai Rp 7,6 triliun per hari. Sedang pengguna kartu kredit secara nasional tercatat 14,7 juta orang dengan jumlah transaksi Rp 520 miliar per hari. Adapun jumlah penerbit kartu ATM baik kartu debit maupun kredit sebanyak 100 penerbit dengan menggunakan jaringan atau infrastruktur seperti VISA, Master Card, Cirrus atau ATM Bersama.

Dapat kita lihat dari data di atas bahwa transaksi bisnis non-tunai telah meningkat pesat per harinya  dan dalam jumlah transaksi yang tidak sedikit. Seperti sudah disebut di atas, mungkin transaksi uang kertas dan uang koin telah terdesak sekarang menjadi bagian kecil dari proses bisnis. Hal ini terus menunjukkan kecendrungan akan meningkatnya jumlah transaksi  non-tunai dan menurunnya transaksi uang tunai. Dan dalam jumlah pengguna yang telah mencapai puluhan juta, dapat kita asumsikan penggunaan kartu elektronik ini tidak hanya terbatas di kalangan masyarakat perkotaan namun telah mencapai masyarakat perdesaan.

Harus diakui proses transaksi non-tunai memang menyediakan kepraktisan bagi penggunanya, bayangkan jika kita ingin mentransfer sebuah transaksi, kita harus antri beberapa jam di sebuah bank dan di dalam tas  atau saku kita ada berlembar-lembar uang kertas yang cukup merepotkan. Dan sekarang malah ada pilihan orang untuk mempunyai kartu kredit, sehingga tanpa memiliki tabungan di bank yang dalam jumlah besar pun, orang bisa langsung bertransaksi. Menurut Ingene dan Levy (1982), ada tiga alasan mengapa seseorang memilih untuk memakai kartu kredit daripada membayar tunai. Pertama, karena konsumen membutuhkan kredit untuk mampu membeli barang atau  jasa yang diinginkan. Kedua, konsumen ingin memanfaatkan kenyamanan untuk tidak  perlu membawa-bawa uang tunai. Ketiga, konsumen merupakan orang yang sangat perhitungan dan memahami keuntungan yang diperoleh dari membeli sekarang dan membayar kemudian.

Demikianlah kepraktisan dan kemudahan tersebut tentunya diiringi dengan kemajuan di bidang perekonomian dan teknologi, tanpa alat-alat yang canggih, strategi perdagangan serta perhitungan secara ekonomi yang cermat, tentunya pihak bank serta pelaku bisnis lainnya tidak akan bisa menerbitkan kartu elektronik  untuk keperluan transaksi non-tunai. Di bawah ini akan dijabarkan lebih lanjut mengenai  strategi dan perhitungan secara ekonomi tersebut, serta teknologi canggih yang mengiringinya.

Pada era teknologi modern masa kini, proses jual-beli bisa dilakukan di mal-mal, supermarket atau minimarket seperti Matahari, Carefour, Ramayana, AlfaMart, Giant dan lain-lain. Begitu dengan pengadaan mesin-mesin ATM, mesin kartu debit/kredit pembayarannya pun sekarang bisa melalui transfer rekening melalui ATM, kartu kredit dll. Begitu juga masyarakat perdesaan, sudah terbiasa membayar rekening listrik, air dan teleponnya melalui kartu ATM.

Kesemuanya itu merupakan alat-alat konsumsi baru, seperti diungkapkan Ritzer (“Enhancing a Dischanted World: Revolutionizing the Means of Consumption” 1999), konsep konsumsi baru ini merupakan turunan dari pemikiran Karl Marx, yang didefinisikan sebagai berikut “komoditas merupakan suatu bentuk dimana komoditas itu memasuki konsumsi individual baik dari kelas kapitalis maupun pekerja”, sehingga dapat dipastikan dengan alat-alat konsumsi baru tersebut, komoditas-komoditas yang diperjualbelikan telah merambah dan di konsumsi ke segala tingkat strata masyarakat.

Lebih lanjut lagi Ritzer (2003), mengungkapkan hal-hal seperti mal, kartu kredit, restoran cepat saji mudah diterima oleh masyarakat karena sebenarnya menawarkan sesuatu yang kosong, “Globalization of Nothing” ungkapnya, semua alat-alat konsumsi itu kosong dari segi distingtif dan bentuk-bentuk kosong ini lebih kecil kemungkinanya untuk berkonflik, sebaliknya malah akan menyatu dengan muatan lokal. Dapat dibayangkan mal-mal yang terdiri dari bangunan-bangunan kosong awalnya, direplikasikan ke seluruh dunia, nantinya akan diisi oleh muatan lokal. Begitu juga kartu-kartu elektronik yang direplikasikan, dan nantinya akan terisi oleh rekening-rekening yang sesuai dengan data penggunanya. Secara khusus mengenai kartu kredit sendiri Ritzer (Expressing America: a Critique of Global Credit Card Society, 1995), mengutip ungkapan Simmels “Alat yang kompatibel untuk melakukan intrik-intrik yang paling kejam”. Mengenai hal ini kita pernah mendengar kasus-kasus yang menimpa orang yang terjerat hutang kartu kredit. Baiklah mungkin masalah tersebut akan dibahas lebih lanjut pada kesempatan lain, sekarang kita lanjutkan pembahasan mengenai perubahan cara transaksi masyarakat kita dengan mengamati penyebabnya yang tidak kalah canggih yaitu Teknologi Informasi dan Jejaring Sosial.

Televisi sebagai tak pelak lagi merupakan garda depan dari teknologi informasi dan komunikasi (selanjutnya jika penulis menulis teknologi informasi, berarti mencakup teknologi informasi dan komunikasi) yang mengubah dunia.  Televisi sebagai media informasi dari berbagai belahan dunia dari informasi teknologi, ekonomi, hukum, sosial dan lain-lain yang menampilkannya secara nyata. Lalu ada lagi teknologi internet yang merupakan bagian dari teknologi informasi, Lewat teknologi ini orang bebas berinteraksi dengan sesama pengguna internet dari belahan dunia manapun yang terjangkau dengan jaringan internet

Sebagai catatan saja, seringkali orang mengidentikkan internet dengan teknologi informasi, padahal sebenarnya internet hanya sebagian dari teknologi informasi tersebut, dan yang kurang tepat lagi internet diidentikkan dengan media jejaring sosial. Jika kita teliti lebih lanjut media jejaring sosial itu tidak hanya di internet saja, peran-peran perusahaan multi level marketing  juga bertangggung jawab akan tumbuhnya jejaring sosial ini, begitu juga jejaring sosial lainnya seperti perkumpulan adat, suku dan lain-lain. Namun pada masa sekarang kebanyakan jejaring sosial itu telah banyak memanfaatkan teknologi informasi demi kemudahan berinteraksi dan berbagi.

Media jejaring sosial sendiri pada dasarnya memanfaatkan sifat manusia yang senang berbagi dengan manusia yang lain. Manusia juga ingin eksistensinya dihargai dan diakui. Karena itulah kehadiran media sosial seperti Facebook dan Twitter bisa dengan cepat membius para pengguna internet. Hingga saat ini misalnya, jumlah facebookers di seluruh dunia telah mencapai lebih dari seperempat milyar orang. Di Indonesia sendiri, menurut data dari checkfacebook, mencapai 117 juta orang. Tumbuh pesatnya media jejaring sosial ini, ditambah dengan beragam fitur yang ditawarkan, membuat waktu orang untuk berlama-lama di akun yang dimilikinya kian lama. Para pemiliki akun pun kian kerap berbagi berita atau peristiwa dengan para pemilik akun yang ada dalam jaringan sosialnya. Dapat kita lihat dengan meningkatnya jumlah toko-toko online, semuanya itu timbul karena memang peningkatan jumlah transaksi online meningkat secara signifikan dari tahun ketahun. Bahkan retailer-retailer besar yang telah mempunyai bagunan fisik berupa toko-toko dan gedung-gedung besar yang jaringannnya menyebar di negri, telah mulai membuka gerai-gerai online mereka.

Tidak berlebihan bila survei yang dilakukan Harris Interactive menunjukkan kian menguatnya media sosial dalam mempengaruhi kebijakan berbelanja online. Situs-situs belanja online terus tumbuh seiring dengan perkembangan media jejaring sosial, sehingga transaksi non-tunai pun bertambah pesat. Proses bisnis dulunya dilaksanakan secara manual akan tetapi sekarang dengan adanya  e-commerce (bisnis online), maka proses bisnis dilaksanakan secara elektronik dalam hal ini menggunakan komputer sebagai media terjalinnya transaksi tersebut. Adapun teknologi yang digunakan dalam proses bisnis e-commerce  ini adalah dengan menggunakan komputer yang bisa mengakses internet. Selain itu proses e-commerce ini bisa dilaksanakan dengan menggunakan mobile- phone atau yang sering disebut dengan handphone, smart-phone dengan menggunkan sms banking atau mobile web.

Manuel Castell (Ritzer, 2003) dalam salah satu dari trilogi bukunya (1996, 1997, 1998) yang berjudul The Information Age: Economy, Society, and Culture (1996), mengungkapkan akan kemunculan masyarakat, kultur, dan ekonomi yang baru dari sudut pandang revolusi teknologi informasi dengan lima karakteristik dasar, Pertama; teknologi yang bereaksi berdasarkan informasi, Kedua; karena informasi merupakan aktivitas manusia, teknologi informasi mempunyai efek pervasif (menyebar), Ketiga; semua sistem yang menggunakan teknologi informasi didefinisikan oleh “logika jaringan” yang menbuatnya bisa mempengaruhi berbagai proses dan organisasi, Keempat; teknologi baru sangatlah fleksibel, membuatnya bisa beradaptasi dan berubah secara konstan, Kelima, teknologi spesifik yang diasosiasikan dengan informasi berpadu dengan sistem yang terintegrasi.

Dari kajian Castells di atas dapat dilihat, sekitar lebih kurang dua dekade dari awal penulisan buku triloginya tersebut (1996), teknologi informasi telah menyebar, beradaptasi mempengaruhi proses dalam masyarakat. Sebagai contoh fenomena “Kerupuk Mak Icih” yang memanfaatkan jejaring sosial dan teknologi informasi dalam proses pemasarannya, serta menawarkan sesuatu yang kosong secara distingtif (Ritzer) serta dibumbui dengan selera lokal dan khas anak muda,  dapat meraup keuntungan mencapai milyaran rupiah dalam waktu hanya 1-2 tahun.

Demikianlah rekor-rekor penjualan fantastis yang dicetak oleh “Kerupuk Mak Icih”, serta para pengikutnya dan usaha lain yang juga memanfaatkan teknologi informasi, membuat transaksi non-tunai bertumbuh pesat mencapai angka triliunan rupiah per harinya.

Kesimpulannya persoalan transaksi bisnis sekarang semakin dimudahkan dengan adanya transaksi non-tunai, sifat manusia modern yang menginginkan semuanya serba instan, pragmatis dan materialis, selain itu manusia juga senang berbagi dengan sesama dan membentuk jejaring sosial, semua sifat itu ditangggapi oleh dunia perekonomian dan teknologi informasi, sehingga menyebarlah kebiasaan transaksi non-tunai tanpa adanya tatap muka. Kalu dulu kita ingin mengambil uang di bank harus berhadapan dengan antrian dan teller bank, sekarang dengan kita tinggal berhadapan dengan mesin ATM. Atau kalau dulu kita bertransaksi di pasar dan pertokoan dengan uang tunai, sekarang kita bisa memakai kartu ATM/debit atau kartu kredit. Begitu ketika melakukan transaksi di media online, kita tidak perlu bertatap muka dengan rekan bisnis kita.

Semua itu didorong dengan semakin pesatnya kemajuan teknologi di bidang ekonomi dan informasi. Dalam tiga dekade setelah kartu debit/kredit mulai marak ditawarkan oleh dunia Perbankan, dua dekade setelah Ritzer menulis tentang Masyarakat Kartu Kredit dan sejak Castells menulis buku tentang Era Informasi, telah terlihat perkembangan nyata dari transaksi non-tunai.

Dengan pendekatan teori rasionalitas dari Weber, dimana formalitas rasional mempunyai sifat dapat diprediksi, lebih menekankan pendekatan kuantitas, penggantian teknologi non-manusia untuk teknologi manusia, maka dapat dilihatlah arah perubahan sosial dalam masyarakat dalam transaksi bisnis, semakin banyak meyediakan barang-barang yang menyebar ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan kelas sosial manusia tersebut, lebih mementingkan kuantitas dibanding kualitas, serta penggunaan teknologi baru, sehingga transaksi bisnis pun lebih mudah dilakukan dan lebih mudah terprediksi.

Norma-norma dan etika bisnis lama pun terhapuskan dengan adanya transaksi non-tunai ini, distribusi produksi semakin cepat, produktivitas pun tumbuh sehingga hal ini pun bisa mendorong tumbuhnya perekonomian.

Demikianlah, dan sebagai penutup dari penulis, di tengah maraknya transaksi non-tunai ini, walaupun masih merupakan beberapa kasus muncul, sudah sepatutnya kita mencurigai efek negatif dari transaksi non-tunai ini, baik berupa pencurian data-data pribadi kita, penipuan dalam transaksi dan lain-lain, lebih baik dari sekarang kita menjaga kerahasiaan data pribadi dan waspada terhadap penipuan.